Makassartoday.com, Kupang, NTT – Sebuah awan mendung menyelimuti Bumi Flobamora menyusul tragedi memilukan yang menimpa seorang murid SD di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kejadian ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi sistem pendukung kesehatan mental anak di tingkat akar rumput.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Anak berusia 10 tahun berinisial YBR, mengakhiri hidupnya di kampung halamannya, di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Pemicunya diduga karena anak yang duduk di bangku kelas IV SD itu kecewa dan putus asa lantaran tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah.
Malam sebelum kejadian, korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena. Namun, permintaan YBR tidak bisa disanggupi ibunya karena kondisi ekonomi mereka yang sangat sulit.
Diungkapkan oleh Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, kondisi ekonomi korban sangat berat. Ibu YBR harus menanggung kebutuhan hidup lima orang anak. Sementara itu, ia sudah berpisah dengan ayah korban sejak 10 tahun lalu.
YBR sendiri sehari-hari tinggal bersama sang nenek di sebuah pondok. Rumah nenek dan ibu korban berada di desa tetangga. Malam itu, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta dibelikan buku dan pena untuk keperluan sekolah.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa, Selasa (3/2), dikutip dari detikBali.
Isi Surat YBR untuk Sang Ibu

YBR lalu ditemukan mengakhiri hidupnya di pohon cengkih di kebun milik neneknya pada Kamis (29/1). Pohon itu hanya berajak sekitar tiga meter dari pondok.
“Pohon cengkih tinggi sekitar 15 meter. Ikat tali sekitar lima meter,” kata Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, Jumat (31/1), dikutip dari detikBali.
Nenek korban tidak berada di pondok saat peristiwa tersebut terjadi. Ia sedang berada di rumah tetangga sejak malam untuk membantu memecahkan kemiri. Ia baru mengetahui YBR mengakiri hidupnya setelah diberitahu oleh warga.
YBR meninggalkan sepucuk surat yang ditulis tangan dan ditemukan oleh polisi di TKP. Surat tersebut ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Di bawah pesannya, ada gambar anak terlihat menangis.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya, dikutip dari detikBali.
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
