Makassartoday.com, Majene – Wacana maritim di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat seolah tak ada habisnya untuk dikupas. Meski terpisah secara administratif, keduanya dipersatukan oleh satu tarikan napas pengetahuan maritim yang membentuk identitas kebudayaan yang kuat. Identitas ini tersebar di pesisir selatan Sulawesi hingga bagian barat, mulai dari Bulukumba dengan kapal Pinisi dan Panrita Lopi-nya, nelayan Patorani di Galesong, hingga kehebatan kapal Sandeq serta perajin layar tradisional Karoroq di Majene. Hingga detik ini, narasi kejayaan maritim tersebut terus dirawat dan disuarakan.
Pada 26 Februari lalu, tim riset film “Sombalak Lopi” melakukan kunjungan ke Pambusuang, Kabupaten Majene. Kunjungan ini merupakan tahap observasi awal atau pra-produksi untuk memotret pengetahuan maritim etnis Mandar yang masih tersisa, khususnya teknik pembuatan layar tradisional Karoroq. Hasil riset ini nantinya akan menjadi ruh dalam film “Sombalak Lopi” yang disutradarai oleh M. Ikhwan. Sebelumnya, Ikhwan telah menelurkan dua karya fiksi berbasis realitas sosial-budaya pesisir Bulukumba berjudul Dendang Bantilang dan Panrita Lopi. Film “Sombalak Lopi” ini diproyeksikan sebagai pelengkap trilogi yang mengungkap konektivitas pengetahuan maritim di tiga wilayah: Bulukumba, Galesong, dan Mandar.
Selama di Pambusuang, kami mengunjungi tiga lokasi krusial. Destinasi pertama adalah Nusa Pustaka, sebuah perpustakaan dan galeri bahari milik peneliti kenamaan Majene, Muhammad Ridwan Alimuddin atau akrab disapa Iwan Mandar. Di sana, diskusi mengalir seputar kebudayaan maritim Mandar, mulai dari sistem kepercayaan spiritual bernama Ussul, hingga transformasi perahu layar tradisional menuju penggunaan mesin di era modern. Kami juga terpaku menyimak pengalaman Iwan Mandar saat mengarungi rute lintas negara hanya dengan mengandalkan perahu layar tradisional.
Perjalanan berlanjut ke Kampung Lanu di Campalagian dengan panduan Iwan Mandar. Secara toponimi, nama kampung ini diambil dari masifnya pohon Lanu (pohon Gebang) yang tumbuh liar di sana. Bibitnya tidak ditanam manusia, melainkan disebarkan secara alami oleh burung-burung. Pohon ini memiliki peran vital bagi masyarakat setempat karena merupakan bahan baku utama pembuatan layar tradisional Karoroq.
Pohon Lanu adalah pohon kehidupan bagi pelaut Mandar. Seratnya digunakan sebagai tali pengikat buras, tali pancing, hingga bahan layar. Daunnya bisa menjadi atap perahu atau selimut saat berlayar, sementara batangnya dapat diolah menjadi sagu sebagai sumber pangan. Namun, kenyataan pahit kini membayangi; populasi pohon Lanu menyusut drastis akibat perluasan lahan persawahan, menjadikannya tumbuhan yang kian sulit ditemukan.
Saat ini, hanya tersisa tiga perajin layar Karoroq di dunia, salah satunya adalah Indo Sana (50). Pengetahuan langka ini ia warisi dari keluarganya, yang juga merupakan dua perajin tersisa lainnya. Dengan antusias, beliau memperlihatkan proses rumit pembuatan layar ini, mulai dari suaminya yang harus memanjat pohon Lanu setinggi empat meter untuk mengambil pucuk muda, hingga proses pengeringan serat yang disebut pappas. Serat tersebut kemudian dipintal menjadi gulungan Kando Kandora sebelum ditenun selama tiga hingga enam hari. Kelangkaan bahan baku membuat harga selembar layar kini mencapai Rp700.000.
Ironisnya, kepunahan pengetahuan ini sudah di depan mata. Bahan baku yang langka dan jumlah pengrajin yang menyusut berbanding lurus dengan hilangnya perahu berlayar Karoroq di lautan. Nelayan lokal kini lebih memilih layar sintetis yang dianggap lebih efisien, awet, dan murah. Kondisi ini memukul mata pencaharian Indo Sana, yang akhirnya terpaksa beralih menjadi petani kebun dan peternak demi menyambung hidup karena menenun layar tak lagi menjamin kesejahteraan.
Lokasi riset terakhir adalah tepian pantai Pambusuang, tempat lahirnya Sandeq, perahu tradisional tercepat di dunia. Di sini, kami menemui pelaut yang masih menggunakan layar tradisional, meski jumlahnya kini bisa dihitung jari. Menurut Abd. Kadir, salah satu nelayan setempat, hilangnya layar Karoroq berarti hilangnya separuh pengetahuan berlayar. Baginya, layar bukan sekadar penggerak, melainkan instrumen untuk membaca arah angin, arus air, astrologi, hingga mitologi maritim yang tidak akan utuh jika digantikan mesin atau bahan sintetis.
Momen pra-produksi di Majene ini menjadi bahan refleksi mendalam bagi kami. Realitas yang kami temui memicu pertanyaan besar: apakah Panrita Lopi di Bulukumba masih menyandang gelar cendekiawan kapal di tengah gempuran industrialisasi? Ataukah nelayan Patorani di Galesong masih memiliki ketajaman pengetahuan melaut yang sama? Fenomena di Mandar seolah menjadi cermin retak bagi wilayah maritim lainnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, film “Sombalak Lopi” hadir untuk mengulas realitas sosial-budaya maritim masa kini. Meski dibalut dalam bingkai fiksi, data yang disajikan berbasis riset kuat agar kredibilitasnya terjaga. Upaya alih media dari tradisi lisan menjadi film pendek ini adalah langkah nyata kami untuk melanggengkan pengetahuan lokal dan menyelamatkan kekayaan intelektual maritim yang sedang berada di ambang kepunahan.

