Makassartoday.com, Makassar – Di sebuah sudut tersembunyi di Jalan Kesadaran IV, Panakkukang, riuh rendah kota Makassar seolah meredup. Melewati kemegahan Mahkota Panakkukang Residence, menyusuri jalanan hingga bertemu sebuah pos ronda di ujung jalan buntu, berdirilah sebuah tempat bernaung yang menjadi saksi bisu perjuangan sepasang lansia.
Di sanalah Kakek Kaharu dan istrinya, Nenek Tuo, menghabiskan hari-hari senjanya. Bukan dengan kemewahan atau jaminan masa tua yang mapan, melainkan dengan kesabaran yang nyaris tak bertepi di tengah keterbatasan yang menyesakkan dada.
Saat ini, fisik mereka tak lagi mampu membohongi usia. Langkah kaki yang dulu tegap kini mulai gemetar, dan pundak yang dulu kokoh kini kian membungkuk. Kakek Kaharu dan Nenek Tuo hidup berdua saja. Di rumah yang sangat sederhana dan memprihatinkan, mereka saling menguatkan meski untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja terasa seperti mendaki gunung yang terjal.
Kondisi tempat tinggal mereka jauh dari kata layak. Di dalamnya, hanya ada keheningan dan sisa-sisa tenaga untuk bertahan hidup. Tidak ada anak atau kerabat yang hilir mudik membantu. Hanya ada cinta mereka yang tersisa, yang memaksa mereka untuk tetap bangun setiap pagi meski perut seringkali harus berkompromi dengan rasa lapar.
Kisah pilu ini mencuat ke permukaan setelah seorang netizen pemilik akun @hikmah_febrynt, membagikan potret kehidupan mereka di media sosial. Unggahan tersebut bukan sekadar informasi, melainkan sebuah “ketukan” bagi hati siapa saja yang masih memiliki empati.
“Mereka bertahan dengan segala keterbatasan, menjalani hari demi hari dengan sabar dan ikhlas,” tulisnya dalam keterangan video yang ia bagikan.
Kakek Kaharu dan Nenek Tuo tidak pernah meminta-minta. Namun, dari tatapan mata mereka yang sayu, tersirat harapan bahwa di luar sana, masih ada tangan-tangan baik yang bersedia merangkul mereka di sisa usia.
Bagi warga Makassar atau siapa pun yang ingin menunjukkan kepedulian, bantuan sekecil apa pun akan menjadi oase bagi mereka. Baik itu berupa makanan, kebutuhan pokok, maupun dukungan materiil untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang mulai rapuh.
Salurkan bantuan ke rumah Kakek Kaharu di Jl. Kesadaran IV, Panakkukang (Area Mahkota Panakkukang Residence, masuk lurus, belok kiri hingga menemukan jalan buntu dan pos ronda).
Mari kita buktikan bahwa di kota besar ini, kemanusiaan belum mati. Kakek Kaharu dan Nenek Tuo adalah cermin bagi kita semua, bahwa masa tua seharusnya dilalui dengan ketenangan, bukan dengan perjuangan hidup dan mati di sebuah ujung jalan buntu.

