Makassartoday.com, Makassar – Kota Makassar berhasil mengukir sejarah baru dalam indeks kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Tahun 2026 menjadi tahun pembuktian bagi “Kota Daeng” untuk melepaskan diri dari bayang-bayang zona merah intoleransi dan resmi menyabet predikat sebagai salah satu kota paling toleran di tanah air.
Berdasarkan laporan terbaru Indeks Kota Toleran (IKT) yang dirilis SETARA Institute di Jakarta, April 2026, Makassar mencatatkan kenaikan peringkat yang sangat signifikan. Jika pada tahun 2024 Makassar masih terjerembab di posisi ke-52, kini di bawah komando Wali Kota Munafri Arifuddin, Makassar melesat naik 43 peringkat dan nangkring di posisi ke-9 nasional.
Wali Kota Makassar yang akrab disapa Appi ini memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat yang telah bekerja keras menciptakan iklim inklusif.
“Pemerintah Kota Makassar tentu mengapresiasi seluruh pihak yang telah menunjukkan bahwa kota ini adalah kota yang inklusif, sesuai dengan visi dan misi pembangunan daerah,” ujar Appi saat ditemui di Makassar, Rabu (6/5/2026).
Keberhasilan Makassar menembus 10 besar kota berpenduduk di atas satu juta jiwa dengan tingkat toleransi terbaik ini bukan tanpa alasan. Appi menegaskan bahwa harmoni yang tercipta saat ini merupakan hasil dari kebijakan nyata, bukan sekadar kata-kata manis.
“Toleransi bukan sekadar jargon, tetapi harus benar-benar hadir dan dirasakan di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.
Penilaian IKT 2026 ini mengukur berbagai indikator ketat, mulai dari keberpihakan regulasi pemerintah daerah terhadap kebebasan beragama, kebijakan inklusif, hingga praktik sosial nyata di lapangan. Hasilnya, Makassar dinilai sukses membangun ruang hidup yang aman, setara, dan saling menghargai bagi seluruh warganya yang beragam.
Selama masa kepemimpinannya, Appi fokus pada penguatan regulasi yang mendukung keberagaman, fasilitasi dialog antarumat beragama secara rutin, hingga pendekatan persuasif dalam memitigasi potensi konflik sosial.
Namun, ia mengingatkan agar prestasi ini tidak membuat pemerintah dan warga cepat berpuas diri. Baginya, menjaga peringkat lebih sulit daripada meraihnya.
“Kita berharap kondisi ini dapat kita pertahankan secara bersama-sama. Ini menjadi bukti bahwa ketika semua pihak peduli dan bekerja bersama, tujuan besar menciptakan kehidupan harmonis dapat tercapai,” tambahnya.
Budaya gotong royong dan keterbukaan warga Makassar menjadi pondasi kuat yang membawa kota ini menjadi role model bagi kota-kota lain di Indonesia.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kebijakan yang berorientasi pada keberagaman, memastikan nilai-nilai toleransi tetap menjadi bagian integral dalam pembangunan kota,” pungkas Appi.

