Revitalisasi Pedestrian di Kajaolalido -Thamrin, Appi Pilih Pohon Natif Lolak Ketimbang Ketapang
- calendar_month 3 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Pemkot Makassar melibatkan tim ahli arborikultur dan arsitektur lanskap. Tim ini bertugas mengkaji kondisi kesehatan pohon, karakter perakaran, ruang tumbuh, hingga potensi konflik vegetasi dengan jaringan utilitas bawah tanah maupun permukaan.
Ahli Arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, menjelaskan bahwa permasalahan utama pada trotoar lama bukanlah jenis pohonnya, melainkan ketidaksesuaian karakter akar dengan kerapatan infrastruktur kota.
“Ketapang kencana itu akarnya ekspansif. Kalau akarnya dipotong lalu trotoarnya diperbaiki, dalam waktu tertentu akar akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar,” ujar Rully, Jumat (25/9/2026).
Menurut Rully, strategi jangka panjang yang tepat adalah mengganti jenis tanaman dengan spesies yang memiliki sistem perakaran ramah infrastruktur dan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan setempat.
“Sebisa mungkin kita memilih pohon asli atau pohon natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat dan akarnya tidak agresif,” tambahnya.
**Pohon Bitti hingga Padiasa Jadi Pilihan**
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Arborist, Faris, mengungkapkan beberapa kandidat pohon natif Sulawesi yang disiapkan untuk mempercantik kawasan tersebut. Salah satunya adalah pohon Bitti (*Vitex cofassus*)—tanaman khas Sulawesi Selatan yang dikenal secara kultural sebagai bahan baku utama pembuat kapal Pinisi.
Selain Bitti, ada pula pohon Padiasa (*Kleinhovia hospita*) serta Elaeocarpus (jelatri). Jenis-jenis ini dinilai memiliki karakter perakaran yang lebih mudah dikendalikan melalui sistem *root barrier* maupun pemangkasan berkala, sehingga tidak merusak drainase dan jaringan fiber optik.
“Bukan pohonnya ditebang lalu dihilangkan begitu saja, tetapi diganti dengan jenis pohon baru yang kebetulan adalah pohon natif Sulawesi,” jelas Faris.
Faris juga menyoroti aspek keselamatan publik. Dari kajian tim arboris, beberapa pohon lama di sekitar kawasan Lapangan Karebosi terdeteksi mengalami pelapukan, memiliki rongga besar, dan miring hingga 40 derajat sehingga berisiko tumbang.
**Penataan Total Infrastruktur dan Utilitas**
Proyek revitalisasi ini mencakup pedestrian Jalan Kajaolalido sepanjang 427,9 meter dan Jalan Thamrin sepanjang 225 meter. Selain mengganti vegetasi, proyek ini menyasar perapihan aset utilitas. Salah satunya mengonsolidasi 62 tiang fiber optik yang melintang menjadi hanya 17 tiang induk.
Guna mendukung pertumbuhan pohon baru, desain pedestrian juga dirancang menggunakan material perkerasan berpori (seperti beton berpori) agar air dan oksigen tetap dapat meresap ke dalam tanah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, turut hadir mengawal pembahasan konsep penataan vegetasi ini agar selaras dengan arah pembangunan Kota Makassar yang ramah lingkungan dan aman bagi masyarakat.
- person

