Diketahui, rujukan awal menjadi indikator itu ada empat komponen tersebut kemudian diuraikan ke dalam 12 pilar yang masing-masing memiliki dimensi dan indikator terukur. Pendekatan ini memastikan bahwa daya saing tidak dilihat secara parsial, melainkan sebagai sistem yang saling terkait.
BRIN menggunakan 12 pilar sebagai skala ukur. Yaitu institusi, infrastruktur, adopsi TIK, stabilitas ekonomi makro, kesehatan, keterampilan, pasar produk, pasar tenaga kerja, ukuran pasar, dinamika bisnis, dan kapabilitas inovasi.
Dalam pilar institusi terdapat sejumlah indikator untuk menguji kekuatan sebuah daerah untuk memfasilitasi ekonomi di daerahnya. Di antaranya adalah tingkat pembunuhan, transparansi anggaran, hingga kebebasan pers.
Lalu pilar infrastruktur akan menilai ketersediaan serta kualitas layanan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Kemudian pilar adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mengukur tingkat pemanfaatan dan penerapan TIK di suatu daerah.
Selanjutnya pilar stabilitas ekonomi makro mengukur kemampuan daerah dalam menjaga keseimbangan perekonomian serta menghadapi berbagai guncangan, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun global.
Adapun pilar kesehatan mencerminkan tingkat kualitas sumber daya manusia, yang diukur berdasarkan harapan lama hidup seseorang dalam kondisi kesehatan optimal. Sementara itu, pilar keterampilan mencerminkan tingkat pendidikan dan kompetensi tenaga kerja saat ini dan tenaga kerja masa depan di suatu wilayah.
Selanjutnya pilar pasar produk mencerminkan keterbukaan pasar dalam memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pelaku usaha untuk bersaing secara adil. Kemudian pilar tenaga kerja mencerminkan efisiensi, keadilan, dan inklusivitas bagi seluruh pekerja. Lalu ada pilar sistem keuangan yang memiliki peran strategis dalam menyalurkan sumber-sumber pembiayaan, memfasilitasi kelancaran arus transaksi melalui mekanisme pembayaran yang efisien.
Sementara itu, pilar ukuran pasar berperan dalam mendorong peningkatan produktivitas melalui penyediaan kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengoptimalkan efisiensi skala produksi.
Adapun pilar dinamika bisnis menggambarkan kemudahan untuk memulai dan melakukan bisnis dan kemudahan untuk melakukan divestasi dan keluar dari pasar (market) di suatu wilayah. Terakhir adalah pilar kapabilitas inovasi. Pilar ini menggambarkan kuantitas dan kualitas riset dan inovasi suatu daerah.

