Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.685, Pasar Antisipasi Suku Bunga BI Rate
- calendar_month Selasa, 19 Mei 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Makassartoday.com, Jakarta – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 19 Mei 2026. Mata uang Garuda terpantau lunglai ke zona merah akibat akumulasi tekanan faktor internal maupun eksternal global.
Berdasarkan data pasar dari Bloomberg di pasar spot pada pukul 09.05 WIB, rupiah merosot ke posisi Rp17.685 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 17 poin atau turun sekitar 0,10 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Senin sore (18/5) yang berada di level Rp17.667 per dolar AS. Bahkan di beberapa sesi perdagangan pagi, rupiah sempat tertekan lebih dalam ke kisaran Rp17.700.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan negatif rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kondisi fiskal domestik. Tingginya harga minyak dunia, defisit anggaran, serta aksi alir modal keluar (outflow) investor asing dari pasar ekuitas domestik menjadi faktor utama penekan mata uang lokal.
“Rupiah awalnya melemah oleh kombinasi beberapa faktor kenaikan harga minyak dunia, kemudian defisit anggaran, outflow asing dari pasar ekuitas domestik, serta kebijakan pemerintah yang ekspansif,” ujar Lukman dalam analisisnya, Selasa (19/5/2026).
Meski demikian, Lukman menambahkan bahwa tensi geopolitik global sedikit melandai setelah adanya kabar penundaan aksi militer AS di Timur Tengah. Langkah diplomasi tersebut memberikan sedikit ruang napas bagi pasar keuangan global, meski ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek dinilai masih sangat terbatas.
Di sisi lain, para pelaku pasar kini tengah menaruh harapan besar pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pekan ini. Pasar mengantisipasi potensi bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5 persen guna menahan depresiasi rupiah agar tidak merosot lebih dalam.
Penurunan nilai mata uang domestik yang terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir diproyeksikan dapat memicu dampak berantai bagi industri nasional, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti tekstil, kimia, dan farmasi. Jika tren ini berlanjut, risiko lonjakan harga barang dan inflasi berkepanjangan di dalam negeri mengintai pasar domestik.
Untuk pergerakan sepanjang hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bakal terus berfluktuasi secara dinamis pada rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Editor: Ibrahim
- person


Saat ini belum ada komentar