Makassartoday.com – Dalam dinamika sosial sehari-hari, kita sering menjumpai sosok yang tampak sangat ramah di depan kita, namun ternyata membicarakan hal buruk di belakang. Fenomena “cari muka” atau perilaku bermuka dua ini bukan sekadar masalah etika biasa, melainkan sebuah peringatan keras dalam ajaran Islam.
Mengenal Sosok Dzul-Wajhain
Istilah Dzul-Wajhain muncul dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua). Yaitu orang ketika di tengah sekelompok orang ia menampakkan suatu wajah, namun di tengah sekelompok orang lain ia menampakkan wajah yang lain.” (HR. Bukhari no. 7179 & Muslim no. 2526).
Secara harfiah, mereka adalah orang-orang yang memiliki “dua wajah”. Mereka berperan sebagai kawan bagi semua pihak, namun sebenarnya tidak setia pada pihak mana pun.
Realita di Dunia Nyata: Mengapa Ini Berbahaya?
Perilaku bermuka dua sering kali muncul dalam bentuk oportunisme—sikap mengambil keuntungan dari perselisihan orang lain. Berikut adalah dampak nyata dari perilaku ini di tengah masyarakat:
Merusak Kepercayaan Sosial: Lingkungan kerja atau pertemanan menjadi tidak sehat karena tidak ada kepastian siapa yang benar-benar kawan dan siapa lawan.
Menjadi Benih Fitnah: Orang bermuka dua biasanya menjadi penyambung lidah yang menyimpang, menceritakan rahasia pihak A kepada pihak B untuk mendapatkan simpati.
Ancaman di Akhirat: Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa orang yang memiliki dua lidah di dunia (bermuka dua) akan diberikan dua lidah dari api neraka di hari kiamat kelak.
Integritas di Atas Popularitas
Pesan dari hadis ini sangat jelas: Jadilah pribadi yang satu. Islam sangat menghargai kejujuran dan keteguhan sikap (istiqomah). Seseorang yang memiliki integritas akan mengatakan hal yang sama, baik di depan maupun di belakang seseorang.
Menjadi “penjilat” demi mendapatkan posisi atau pujian di mata manusia hanya akan memberikan keuntungan sesaat, namun menghancurkan martabat pelakunya di mata Allah dan manusia lainnya dalam jangka panjang.
Editor: Ariel

