Makassartoday.com – Jagat media sosial tengah diramaikan oleh narasi yang menghubungkan eskalasi konflik di Timur Tengah dengan tanda-tanda akhir zaman. Unggahan video penampakan Rudal Sejjil milik Iran yang meluncur di langit malam disebut-sebut menyerupai fenomena “Bintang Berekor” (Dhu-l-Suwayqatayn/Al-Kaukab al-Mudannab) yang terdapat dalam literatur hadis.
Tak berhenti di situ, spekulasi netizen semakin liar setelah muncul kabar mengenai kebijakan Israel yang melakukan rekrutmen masif pasukan cadangan. Angka 70 ribu yang muncul dalam laporan pemberitaan luar negeri langsung dikaitkan oleh warganet dengan hadis tentang 70 ribu pengikut Dajjal dari kalangan Yahudi Asfahan.
Cocoklogi atau Tanda Nyata?
Narasi yang beredar di platform TikTok dan X (Twitter) ini membandingkan visual ekor api rudal balistik Sejjil dengan deskripsi hadis yang menyebutkan kemunculan bintang berekor sebagai pertanda huru-hara besar.
Selain itu, klaim rekrutmen 70 ribu pasukan tambahan oleh militer Israel dianggap sebagai “sinyal” pemenuhan nubuat. Salah satu hadis yang sering dikutip adalah:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Asfahan, mereka memakai thailasan (selendang persia).” (HR. Muslim).
Pandangan Ulama: Jangan Terjebak “Cocoklogi”
Menanggapi fenomena ini, beberapa tokoh agama di Indonesia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam penafsiran yang dangkal atau sekadar “cocoklogi”.
KH. Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), Ketua PBNU, mengimbau agar umat Islam berhati-hati dalam mengaitkan peristiwa politik kontemporer dengan hadis-hadis eskatologi (akhir zaman).
“Hadis tentang akhir zaman itu bersifat ghaibiyyat. Kita wajib mengimani nubuat Rasulullah SAW, namun tidak boleh terburu-buru memastikan bahwa peristiwa hari ini adalah kejadian yang dimaksud dalam hadis tersebut secara spesifik,” ujar Gus Fahrur.
Senada dengan hal tersebut, beberapa pakar hadis mengingatkan bahwa bintang berekor (komet) adalah fenomena alam semesta, sedangkan rudal adalah teknologi buatan manusia. Menyamakan keduanya memerlukan kajian mendalam, bukan sekadar kemiripan visual.
Sementara angka 70 Ribu dalam bahasa Arab, angka “tujuh puluh” sering kali digunakan untuk menunjukkan jumlah yang banyak (jamak), bukan selalu berarti angka nominal yang eksak.
Ulama berpesan agar kabar tentang akhir zaman dijadikan pengingat untuk memperbanyak amal ibadah, bukan justru menimbulkan kepanikan atau spekulasi yang menjauhkan dari fakta geopolitik yang sebenarnya.
Di sisi lain, pengamat militer menilai rekrutmen pasukan cadangan Israel merupakan respons standar terhadap eskalasi perang di Gaza dan Lebanon demi menutupi kekurangan personel, terlepas dari angka yang kebetulan mirip dengan teks hadis.
Hingga saat ini, perdebatan di media sosial masih terus berlanjut antara mereka yang meyakini kiamat sudah dekat dan mereka yang memandangnya sebagai dinamika politik global biasa.
Editor: Ariel

