Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Breaking News
Trending Tags
Beranda » Opini » Negara Berdagang: Membaca Danantara di Antara Kedaulatan, Rente, dan Ilusi Monopoli

Negara Berdagang: Membaca Danantara di Antara Kedaulatan, Rente, dan Ilusi Monopoli

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ilham Mendrofa

Apakah sebuah negara yang kaya sumber daya alam pasti akan menjadi negara kaya, atau justru kekayaan itu sering berubah menjadi kutukan yang perlahan menggerogoti institusinya sendiri?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika pemerintah Indonesia mewacanakan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) sebagai State Trading Enterprise untuk komoditas strategis seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferroalloy. Gagasannya tampak sederhana: negara ingin ikut berdagang agar tidak terus menjadi penonton dalam perdagangan sumber daya alamnya sendiri. Tetapi sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa setiap kali negara mulai terlalu dekat dengan rente komoditas, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “berapa keuntungan yang akan diperoleh?”, melainkan “siapa yang akhirnya akan menguasai keuntungan itu?”

Indonesia memang memiliki alasan untuk gelisah. Pada 2024, nilai ekspor Indonesia mencapai sekitar US$258 miliar, dan lebih dari 40 persen berasal dari komoditas berbasis sumber daya alam seperti batu bara, sawit, nikel, dan mineral lainnya. Indonesia adalah produsen CPO terbesar dunia dengan produksi sekitar 47 juta ton per tahun dan ekspor lebih dari US$27 miliar. Indonesia juga merupakan eksportir batu bara termal terbesar dunia dengan volume ekspor sekitar 518 juta ton pada 2024. Namun di tengah angka-angka raksasa itu, penerimaan negara dan kesejahteraan produsen kecil tetap relatif terbatas. Bukankah aneh bahwa negeri yang begitu kaya sumber daya justru berkali-kali kesulitan mengubah kekayaan itu menjadi kekuatan fiskal dan kesejahteraan jangka panjang?

Kegelisahan itu bukan tanpa dasar. Tax Justice Network memperkirakan Indonesia kehilangan sekitar US$4,8 miliar per tahun akibat praktik penghindaran pajak lintas yurisdiksi dan trade misinvoicing. Sementara itu, laporan World Bank tahun 2024 menunjukkan petani sawit plasma rata-rata hanya menerima sekitar 65–70 persen dari harga referensi internasional setelah dipotong biaya logistik, distribusi, dan margin perdagangan global. Dalam industri batu bara, disparitas harga ekspor dan nilai yang tercatat di dalam negeri juga berulang kali memunculkan dugaan praktik under-invoicing. Jika pasar global terlalu bocor dan terlalu dikuasai trader internasional, bukankah wajar bila negara mulai tergoda mengambil alih sebagian kendali perdagangan?

Namun di titik itulah sejarah mulai memberi peringatan. Tidak semua kebocoran pasar dapat diselesaikan dengan membangun monopoli negara. Kadang negara hanya mengganti kebocoran lama dengan kebocoran baru yang lebih besar, tetapi kini tersembunyi di balik rahasia birokrasi dan slogan nasionalisme ekonomi. Bukankah terlalu banyak negara berkembang jatuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena elite politiknya gagal membatasi diri ketika rente mulai terkonsentrasi di tangan negara?

Chili memahami dilema itu dengan cukup baik. Negara tersebut memang memiliki CODELCO, perusahaan tambang tembaga milik negara yang menghasilkan sekitar 1,4 juta ton tembaga per tahun. Tetapi Chili tidak membangun monopoli absolut atas ekspor tembaga. Negara tetap membuka ruang bagi perusahaan swasta global seperti BHP dan Anglo American sambil menjaga disiplin fiskal dan tata kelola yang ketat. Hasilnya, Chili mampu mempertahankan stabilitas fiskal bahkan ketika harga tembaga dunia bergejolak. Sovereign wealth fund Chili pada 2024 tercatat memiliki aset lebih dari US$20 miliar untuk meredam volatilitas siklus komoditas. Bukankah keberhasilan Chili justru lahir dari kemampuan negara membatasi kekuasaannya sendiri?

Botswana menawarkan pelajaran yang bahkan lebih menarik. Negara kecil di Afrika itu pernah menjadi salah satu negara termiskin di dunia pada 1960-an. Tetapi melalui kerja sama Debswana—joint venture 50:50 antara pemerintah Botswana dan De Beers—negara tersebut berhasil mengubah berlian menjadi fondasi pembangunan nasional. Pendapatan per kapita Botswana naik dari sekitar US$70 pada 1966 menjadi lebih dari US$7.500 pada 2024. Yang menarik, keberhasilan itu tidak dibangun melalui nasionalisasi emosional atau monopoli total negara, melainkan melalui kontrak yang kredibel, birokrasi teknokratis, dan disiplin fiskal yang kuat. Bukankah masalah terbesar banyak negara berkembang sebenarnya bukan kurangnya sumber daya, melainkan ketidakmampuan elite politik menahan godaan rente?

Sebaliknya, Venezuela adalah kisah tentang bagaimana negara bisa perlahan berubah dari pengelola sumber daya menjadi korban dari sumber daya itu sendiri. Pada awal 2000-an, PDVSA termasuk perusahaan minyak terbesar dunia dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari. Tetapi ketika loyalitas politik mulai lebih penting daripada kompetensi teknokratis, perusahaan itu berubah menjadi alat patronase rezim. Pada 2024, produksi minyak Venezuela tinggal sekitar 800 ribu barel per hari, sementara hiperinflasi menghancurkan ekonomi domestik dan jutaan orang meninggalkan negaranya. Jika perusahaan negara akhirnya menjadi instrumen politik jangka pendek, apakah monopoli negara masih bisa disebut sebagai kedaulatan ekonomi, atau hanya bentuk lain dari konsentrasi kekuasaan?

Pendukung PT DSI sering berbicara seolah pasar adalah musuh negara. Tetapi masalah Indonesia bukan semata pasar yang terlalu kuat; masalahnya justru negara yang terlalu lemah untuk mengatur pasar secara konsisten. Investor global sebenarnya tidak alergi terhadap perusahaan negara. Mereka menerima Petronas di Malaysia, Equinor di Norwegia, bahkan CNOOC di Tiongkok. Yang mereka takutkan bukan keberadaan negara, melainkan negara yang berubah-ubah, tidak transparan, dan menggunakan kekuasaan ekonomi untuk kepentingan politik jangka pendek. Bukankah modal internasional selalu lebih takut pada ketidakpastian dibanding ideologi?

Itulah sebabnya reaksi pasar terhadap wacana Danantara sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Ketika IHSG melemah sekitar 1,8 persen dan rupiah sempat menyentuh Rp16.050 per dolar AS pada Februari 2025, sebagian pengamat langsung menyimpulkan investor panik melihat negara ingin ikut berdagang. Tetapi studi event study LPEM FEB UI menunjukkan bahwa pelemahan tersebut tidak signifikan secara statistik setelah memperhitungkan faktor global seperti kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan penguatan indeks dolar. Pasar ternyata tidak otomatis menolak intervensi negara. Pasar hanya ingin tahu satu hal: apakah negara memiliki aturan yang dapat dipercaya?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika Indonesia mulai memasuki wilayah hukum perdagangan internasional. Dalam sistem WTO, State Trading Enterprise memang tidak otomatis ilegal. Tetapi negara yang terlalu agresif membatasi perdagangan berisiko menghadapi tekanan diplomatik dan litigasi internasional yang mahal. Kasus gugatan Uni Eropa terhadap larangan ekspor bijih nikel Indonesia menunjukkan bahwa nasionalisme ekonomi modern tidak lagi berlangsung di ruang kosong. Dunia perdagangan hari ini diikat oleh jaringan aturan yang rumit dan saling bergantung. Jika Indonesia membangun monopoli ekspor berskala besar, apakah negara benar-benar siap menghadapi konsekuensi politik dan hukum internasionalnya?

Karena itu, solusi paling realistis kemungkinan bukan monopoli absolut, melainkan model hibrida. Negara tetap perlu memiliki instrumen strategis untuk mengawasi devisa, memperkuat hilirisasi, dan meningkatkan posisi tawar nasional. Tetapi instrumen itu harus dibangun tanpa menghancurkan kompetisi pasar sepenuhnya. Model right of first refusal mungkin lebih masuk akal: negara memiliki hak prioritas membeli komoditas strategis pada harga tertentu, tetapi eksportir swasta tetap dapat menjual ke pasar internasional jika negara tidak menggunakan haknya. Bukankah negara yang matang justru terlihat dari kemampuannya mengintervensi tanpa harus menguasai semuanya?

Tetapi bahkan desain terbaik pun akan runtuh jika institusinya rapuh. Indonesia memiliki sejarah panjang lembaga ekonomi yang awalnya dibangun atas nama kepentingan nasional, tetapi perlahan berubah menjadi arena pembagian rente politik. Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan apakah PT DSI dapat meningkatkan penerimaan negara. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang akan mengawasi pengawasnya?

Tanpa audit independen, tanpa transparansi kontrak, tanpa pembatasan intervensi politik, dan tanpa mekanisme evaluasi berkala, PT DSI berisiko berubah menjadi monster birokrasi baru dengan nasionalisme ekonomi sebagai tameng moralnya. Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan ekonomi yang terlalu besar hampir selalu menemukan cara untuk melindungi dirinya sendiri dari pengawasan publik. Jika negara akhirnya menjadi trader terbesar, regulator terbesar, sekaligus penentu harga terbesar, siapa yang tersisa untuk mengoreksi negara ketika negara mulai salah?

Indonesia memang membutuhkan strategi baru untuk keluar dari kutukan ekonomi komoditas mentah. Tetapi strategi itu tidak dapat dibangun hanya dengan kemarahan terhadap trader asing atau romantisme kedaulatan ekonomi. Negara-negara berhasil bukan karena mereka membenci pasar, melainkan karena mereka berhasil mendisiplinkan negara dan pasar sekaligus. Bukankah inti pembangunan modern selalu tentang membatasi kekuasaan sebelum kekuasaan itu menjadi terlalu besar untuk dikendalikan?

Pada akhirnya, PT Danantara Sumberdaya Indonesia bukan sekadar soal ekspor batu bara atau sawit. Ia adalah ujian yang jauh lebih besar: apakah Indonesia mampu membangun negara yang cukup kuat untuk mengelola kekayaan alamnya, tetapi cukup terbatas untuk tidak memangsa kekayaan itu sendiri? (IM)

(Penulis adalah Mahasiswa Doktoral SBM IPB University)

  • person
Bagikan Threads
Tags
Tulis Komentar
×

forum Komentar (9)

  • 40hotburning

    I am a huge fan of high volatility slots and this platform delivers exactly what thrill seekers need. The game selection features plenty of fire themed mechanics and the bonus rounds trigger fairly often. Customer service was helpful when I had a question about the wagering requirements. If you enjoy chasing big multipliers this is the spot to spin. 40hotburning

    Balas21 Agustus 2026 12:56 pm
  • phpopwin

    I stumbled upon this place during a late night search and I am so glad I stayed. The welcome package actually delivers on its promises and the ongoing reload bonuses keep the excitement alive. Support staff even remembered my name on my third visit. It really feels like a family run operation. phpopwin

    Balas21 Agustus 2026 12:56 pm
  • mx77casino

    I cannot stop recommending mx77casino to all my friends because the atmosphere here is simply unbeatable. The graphics are stunning and every game runs without a single hiccup on my tablet. They handle all transactions smoothly and the loyalty program actually makes a difference over time. It feels like a premium lounge right in my living room. mx77casino

    Balas21 Agustus 2026 12:56 pm
  • vaidebbet

    Right, placed a few bets on vaidebbet, so let’s see! Site’s alright, easy enough to understand. Here’s hoping I can take home some earnings tonight! Good luck to those betting on vaidebbet.

    Balas8 Agustus 2026 9:47 pm
  • e777

    e777的优惠活动是真的给力,充值送的挺多的,感觉可以玩很久,最近运气不错,小赚了一笔。点击进入e777!

    Balas8 Agustus 2026 9:46 pm
  • ww888slot

    WW888slot is calling my name! Spinning those reels and hoping for a big win! Fingers crossed. Good luck if you try it ww888slot.

    Balas8 Agustus 2026 9:46 pm
  • phjl96

    Solid platform with a very responsive community. I feel safe playing here and the game loading speed is impressive. phjl96

    Balas10 Juli 2026 10:54 am
  • phlviplink

    The access link is always working and updated. It makes joining the games so much faster than other sites I tried. Love it! phlviplink

    Balas10 Juli 2026 10:54 am
  • phhalikph

    The promotions they offer are actually usable and not just for show. Really happy with my experience on phhalikph so far.

    Balas10 Juli 2026 10:54 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less
news-1701

yakinjp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

SATGASJITU

SLOT GACOR

SALAMJITU

SATGASJITU

SEMOGAJITU

SALAMJITU

Slot Gacor

MAUJP

Slot Gacor

SLOT GACOR

artikel 000000121

artikel 000000122

artikel 000000123

artikel 000000124

artikel 000000125

artikel 000000126

artikel 000000127

artikel 000000128

artikel 000000129

artikel 000000130

artikel 000000131

artikel 000000132

artikel 000000133

artikel 000000134

artikel 000000135

artikel 000000136

artikel 000000137

artikel 000000138

artikel 000000139

artikel 000000140

artikel 000000141

artikel 000000142

artikel 000000143

artikel 000000144

artikel 000000145

artikel 000000146

artikel 000000147

artikel 000000148

artikel 000000149

artikel 000000150

artikel 000000151

artikel 000000152

artikel 000000153

artikel 000000154

artikel 000000155

artikel 000000156

artikel 000000157

artikel 000000158

artikel 000000159

artikel 000000160

artikel 000000161

artikel 000000162

artikel 000000163

artikel 000000164

artikel 000000165

artikel 000000166

artikel 000000167

artikel 000000168

artikel 000000169

artikel 000000170

artikel 000000171

artikel 000000172

artikel 000000173

artikel 000000174

artikel 000000175

informasi terbaru kabupaten belu 00000056

informasi terbaru kabupaten belu 00000057

informasi terbaru kabupaten belu 00000058

informasi terbaru kabupaten belu 00000059

informasi terbaru kabupaten belu 00000060

informasi terbaru kabupaten belu 00000061

informasi terbaru kabupaten belu 00000062

informasi terbaru kabupaten belu 00000063

informasi terbaru kabupaten belu 00000064

informasi terbaru kabupaten belu 00000065

informasi terbaru kabupaten belu 00000066

informasi terbaru kabupaten belu 00000067

informasi terbaru kabupaten belu 00000068

informasi terbaru kabupaten belu 00000069

informasi terbaru kabupaten belu 00000070

informasi terbaru kabupaten belu 00000071

informasi terbaru kabupaten belu 00000072

informasi terbaru kabupaten belu 00000073

informasi terbaru kabupaten belu 00000074

informasi terbaru kabupaten belu 00000075

informasi terbaru kabupaten belu 00000076

informasi terbaru kabupaten belu 00000077

informasi terbaru kabupaten belu 00000078

informasi terbaru kabupaten belu 00000079

informasi terbaru kabupaten belu 00000080

informasi terbaru kabupaten belu 00000081

informasi terbaru kabupaten belu 00000082

informasi terbaru kabupaten belu 00000083

informasi terbaru kabupaten belu 00000084

informasi terbaru kabupaten belu 00000085

informasi terbaru kabupaten belu 00000086

informasi terbaru kabupaten belu 00000087

informasi terbaru kabupaten belu 00000088

informasi terbaru kabupaten belu 00000089

informasi terbaru kabupaten belu 00000090

informasi terbaru kabupaten belu 00000091

informasi terbaru kabupaten belu 00000092

informasi terbaru kabupaten belu 00000093

informasi terbaru kabupaten belu 00000094

informasi terbaru kabupaten belu 00000095

informasi terbaru kabupaten belu 00000096

informasi terbaru kabupaten belu 00000097

informasi terbaru kabupaten belu 00000098

informasi terbaru kabupaten belu 00000099

informasi terbaru kabupaten belu 00000100

informasi terbaru kabupaten belu 00000101

informasi terbaru kabupaten belu 00000102

informasi terbaru kabupaten belu 00000103

informasi terbaru kabupaten belu 00000104

informasi terbaru kabupaten belu 00000105

informasi terbaru kabupaten belu 00000106

informasi terbaru kabupaten belu 00000107

informasi terbaru kabupaten belu 00000108

informasi terbaru kabupaten belu 00000109

informasi terbaru kabupaten belu 00000110

informasi terbaru kabupaten belu 00000111

informasi terbaru kabupaten belu 00000112

informasi terbaru kabupaten belu 00000113

informasi terbaru kabupaten belu 00000114

informasi terbaru kabupaten belu 00000115

informasi terbaru kabupaten belu 00000116

informasi terbaru kabupaten belu 00000117

informasi terbaru kabupaten belu 00000118

informasi terbaru kabupaten belu 00000119

informasi terbaru kabupaten belu 00000120

informasi terbaru kabupaten belu 00000121

informasi terbaru kabupaten belu 00000122

informasi terbaru kabupaten belu 00000123

informasi terbaru kabupaten belu 00000124

informasi terbaru kabupaten belu 00000125

informasi terbaru kabupaten belu 00000126

informasi terbaru kabupaten belu 00000127

informasi terbaru kabupaten belu 00000128

informasi terbaru kabupaten belu 00000129

informasi terbaru kabupaten belu 00000130

article 48666670361

article 48666670362

article 48666670363

article 48666670364

article 48666670365

article 48666670366

article 48666670367

article 48666670368

article 48666670369

article 48666670370

article 48666670371

article 48666670372

article 48666670373

article 48666670374

article 48666670375

article 48666670376

article 48666670377

article 48666670378

article 48666670379

article 48666670380

article 48666670381

article 48666670382

article 48666670383

article 48666670384

article 48666670385

article 48666670386

article 48666670387

article 48666670388

article 48666670389

article 48666670390

article 48666670391

article 48666670392

article 48666670393

article 48666670394

article 48666670395

article 48666670396

article 48666670397

article 48666670398

article 48666670399

article 48666670400

article 48666670401

article 48666670402

article 48666670403

article 48666670404

article 48666670405

article 48666670406

article 48666670407

article 48666670408

article 48666670409

article 48666670410

article 58666670411

article 58666670412

article 58666670413

article 58666670414

article 58666670415

article 58666670416

article 58666670417

article 58666670418

article 58666670419

article 58666670420

article 58666670421

article 58666670422

article 58666670423

article 58666670424

article 58666670425

article 58666670426

article 58666670427

article 58666670428

article 58666670429

article 58666670430

article 58666670431

article 58666670432

article 58666670433

article 58666670434

article 58666670435

article 58666670436

article 58666670437

article 58666670438

article 58666670439

article 58666670440

article 58666670441

article 58666670442

article 58666670443

article 58666670444

article 58666670445

article 58666670446

article 58666670447

article 58666670448

article 58666670449

article 58666670450

article 58666670451

article 58666670452

article 58666670453

article 58666670454

article 58666670455

article 58666670456

article 58666670457

article 58666670458

article 58666670459

article 58666670460

article 58666670461

article 58666670462

article 58666670463

article 58666670464

article 58666670465

article 58666670466

article 58666670467

article 58666670468

article 58666670469

article 58666670470

article 58666670471

article 58666670472

article 58666670473

article 58666670474

article 58666670475

article 58666670476

article 58666670477

article 58666670478

article 58666670479

article 58666670480

article 58666670481

article 58666670482

article 58666670483

article 58666670484

article 58666670485

article 58666670486

article 58666670487

article 58666670488

article 58666670489

article 58666670490

article 58666670491

article 58666670492

article 58666670493

article 58666670494

article 58666670495

article 58666670496

article 58666670497

article 58666670498

article 58666670499

article 58666670500

article 58666670501

article 58666670502

article 58666670503

article 58666670504

article 58666670505

article 58666670506

article 58666670507

article 58666670508

article 58666670509

article 58666670510

news-1701