Makassartoday.com, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merilis data terbaru yang cukup mengejutkan terkait kondisi psikologis masyarakat. Berdasarkan estimasi nasional per Januari 2026, setidaknya 28 juta penduduk atau 1 dari 10 orang di Indonesia diperkirakan hidup dengan masalah kesehatan jiwa.
Fenomena ini disebut sebagai “gunung es”, di mana angka yang terdeteksi di fasilitas kesehatan masih jauh lebih kecil dibandingkan realitas di lapangan. Minimnya kesadaran untuk melakukan skrining dini menjadi tantangan utama yang dihadapi pemerintah saat ini.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa kesehatan jiwa tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam keterangannya, ia menyoroti bahwa kelompok usia muda justru menjadi yang paling rentan.
“Data skrining kita menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada generasi muda. Anak-anak dan remaja memiliki kerentanan 5 kali lebih tinggi terhadap kecemasan dan depresi dibandingkan kelompok dewasa. Ini adalah alarm keras bagi kita semua,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam paparan capaian kesehatan nasional baru-baru ini.
Menkes menambahkan bahwa dari sekitar 28 juta orang yang diperkirakan mengalami gangguan jiwa, tingkat deteksi pada kelompok dewasa masih di bawah 1%. Hal ini terjadi karena stigma negatif yang masih melekat pada isu kesehatan mental di tengah masyarakat.
Berdasarkan laporan terbaru Kemenkes, berikut adalah poin-poin krusial terkait kondisi kesehatan mental di tanah air:
- Kelompok Rentan: Prevalensi depresi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun dengan angka mencapai 2%.
- Gap Pengobatan: Hanya sekitar 10,4% remaja yang mengalami masalah kejiwaan yang mencari bantuan profesional.
- Gejala Dominan: Sebanyak 363.326 anak terdeteksi memiliki gejala depresi, dan 338.316 anak menunjukkan gejala kecemasan berlebih.
Untuk menekan angka tersebut, Kemenkes kini mengintegrasikan skrining kesehatan jiwa ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat diakses masyarakat di berbagai puskesmas dan titik layanan publik.
“Kami ingin mengubah pendekatan. Kesehatan jiwa tidak harus langsung ke Rumah Sakit Jiwa. Puskesmas kini diperkuat untuk bisa melakukan deteksi awal dan tata laksana ringan. Kami mendorong setiap warga melakukan skrining minimal satu kali setahun,” lanjut Menkes Budi.
Pemerintah berharap dengan akses yang lebih mudah dan hilangnya stigma, masyarakat tidak lagi ragu untuk mencari bantuan medis demi meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas nasional.
(bs)

