By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Makassar TodayMakassar TodayMakassar Today
  • NEWS
    • Metro
    • Sulawesi Selatan
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • BISNIS
    • Finance
    • Saham
    • Macro Ekonomi
    • Forex
  • HIBURAN
    • Film
    • Musik
    • Selebriti
  • LIFESTYLE
    • Health
    • Recipes
    • Travel
    • Fashion
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Reading: ‘Cukup Saya WNI, Anakku Jangan’ Ungkapan yang Lagi Viral: Jeritan Hati atau Sekadar Tren Sesaat?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Makassar TodayMakassar Today
Font ResizerAa
  • NEWS
  • BISNIS
  • HIBURAN
  • LIFESTYLE
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Cari Berita
  • NEWS
    • Metro
    • Sulawesi Selatan
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • BISNIS
    • Finance
    • Saham
    • Macro Ekonomi
    • Forex
  • HIBURAN
    • Film
    • Musik
    • Selebriti
  • LIFESTYLE
    • Health
    • Recipes
    • Travel
    • Fashion
  • OLAHRAGA
  • TEKNO
  • CITIZEN JURNALIS
  • OPINI
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Makassar Today > Blog > Viral > ‘Cukup Saya WNI, Anakku Jangan’ Ungkapan yang Lagi Viral: Jeritan Hati atau Sekadar Tren Sesaat?
Viral

‘Cukup Saya WNI, Anakku Jangan’ Ungkapan yang Lagi Viral: Jeritan Hati atau Sekadar Tren Sesaat?

admin
admin
Share
3 Min Read
Ilustrasi
SHARE

Makassartoday.com, Makassar – Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan dengan sebuah kalimat pendek yang cukup menyesakkan dada: “Cukup Saya WNI, Anakku Jangan.” Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata biasa.

Ia muncul di kolom komentar, video TikTok, hingga utas di X (Twitter) sebagai respons terhadap berbagai isu nasional—mulai dari tingginya biaya pendidikan, sulitnya mencari kerja, hingga karut-marut birokrasi.

Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa rasa nasionalisme kini bersanding dengan keinginan untuk “menyelamatkan” generasi mendatang dari paspor sendiri?

Akar Keresahan: Bukan Benci Negara, Tapi Lelah pada Sistem

Periklanan
Ad imageAd image

Sentimen ini jarang sekali muncul karena kebencian terhadap tanah air secara fisik. Sebaliknya, ini adalah bentuk protes emosional terhadap realitas ekonomi. Beberapa faktor utama yang memicu narasi ini antara lain:

Standar Hidup vs Pendapatan: Kesenjangan antara gaji minimum dengan harga hunian yang semakin tak terjangkau.
Privilese Pendidikan: Banyak orang tua merasa kualitas pendidikan berkualitas hanya bisa diakses oleh mereka yang berkantong tebal.
Banding-Banding Negara: Di era globalisasi, netizen dengan mudah membandingkan sistem social safety net di negara lain (seperti kesehatan gratis atau tunjangan pengangguran) dengan apa yang mereka rasakan di dalam negeri.

Antara Realita dan Ironi

Menariknya, mereka yang menyuarakan hal ini biasanya adalah kelompok middle-income trap atau kelas menengah yang merasa paling “terjepit”. Mereka bekerja keras, membayar pajak, namun merasa perlindungan negara terhadap masa depan anak-anak mereka belum maksimal.

Namun, di sisi lain, berpindah kewarganegaraan atau menyekolahkan anak ke luar negeri bukanlah perkara mudah. Bagi sebagian besar orang, kalimat ini tetap menjadi sebatas hyperbole—sebuah cara ekstrem untuk mengatakan, “Tolong, perbaiki sistem ini sebelum anak saya dewasa.”

Menilik dari Sisi Psikologi Sosial

Secara psikologis, fenomena ini menunjukkan adanya penurunan optimisme kolektif. Ketika individu merasa aspirasinya tidak terserap oleh sistem, mereka cenderung mencari solusi individuil, salah satunya dengan membayangkan masa depan di tempat lain yang dianggap lebih stabil secara hukum dan ekonomi.

“Nasionalisme itu harus dipupuk dengan rasa aman. Jika rasa aman (finansial dan hukum) hilang, maka loyalitas terhadap identitas kewarganegaraan akan goyah.”

Sebuah Alarm bagi Pembuat Kebijakan

Fenomena “Cukup Saya WNI, Anakku Jangan” seharusnya tidak dianggap angin lalu atau sekadar nyinyiran netizen. Ini adalah alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Aspirasi ini adalah pesan bahwa ada generasi yang merasa lelah dan berharap ada perubahan nyata agar anak-cucu mereka kelak bisa bangga memegang paspor hijau tanpa rasa was-was.

Bagaimanapun, Indonesia tetaplah rumah. Namun, rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu melindungi dan menjamin masa depan penghuninya.

You Might Also Like

Link Video ‘Teh Pucuk’ Diburu Netizen, Waspada Jebakan Bikin Data Pribadi Jebol!

Sisi Lain Winda Can: Antara Fenomena Viral ‘Botol Parfum’ dan Jejak Digital yang Tak Terhapus

Bupati Ngada Bantah YBR Bunuh Diri karena Tak Dibelikan Buku dan Pulpen

Lumba-Lumba Tersesat di Mangrove Kuti-Caddi Maros

Viral Aplikasi Matel Berisi Data Pribadi Nasabah, Digunakan untuk Intimidasi di Jalanan

TAGGED: Viral
admin Februari 22, 2026 Februari 22, 2026
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article Ambisi Bioetanol Bahlil: Klaim Mandiri, Tapi Bergantung Impor Tarif 0% dari Amerika
Next Article Diapresiasi Warga, Partai Golkar Makassar Konsisten Bagikan Takjil di Jalan Lasinrang Sepanjang Ramadan
Leave a comment Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Periklanan
Ad imageAd image

Sosial Media Kami

13.4k Followers Like
1.7k Followers Follow
182 Subscribers Subscribe

Berita Terbaru

Menu Sahur Praktis Anak Kos: Sehat, Murah, Anti-Ribet, dan Tahan Lama
Food Februari 22, 2026
Diapresiasi Warga, Partai Golkar Makassar Konsisten Bagikan Takjil di Jalan Lasinrang Sepanjang Ramadan
Politik Februari 22, 2026
Ambisi Bioetanol Bahlil: Klaim Mandiri, Tapi Bergantung Impor Tarif 0% dari Amerika
Nasional Februari 22, 2026
Tindak Lanjut Instruksi Presiden, Pemkot Makassar Wajibkan Gerakan ASRI Dua Kali Sepekan
Metro Februari 22, 2026
Makassar TodayMakassar Today
Follow US
© Makassartoday 2023.
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?