Implementasi di lapangan akan diperkuat melalui pemilahan sampah berbasis RT/RW di Kelurahan dan Kecamatan, penguatan bank sampah, optimalisasi TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle). Juga pengolahan sampah organik melalui maggot dan kompos, hingga pemanfaatan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel).
“Fokus utama kita adalah meminimalisir sampah sejak dari sumber dan mempercepat ekonomi sirkular. Road map ini kita siapkan agar Makassar bisa menjadi contoh dalam pengelolaan persampahan yang modern dan berkelanjutan,” tuturnya.
Munafri juga menekankan bahwa target besar dari seluruh upaya ini adalah mewujudkan kota yang bersih dan sehat dimasa akan datang. Salah satu solusi jangka panjang yang tengah didorong adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), sebagai upaya mengurangi penumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.
“Lewat solusi kita kerjakan, harapnya Kota Makassar bersih. PLTSa menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan persoalan tumpukan sampah secara menyeluruh,” tegasnya. Terkait TPA Antang, Munafri menyebutkan bahwa dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan, sistem pengelolaannya ditargetkan bertransformasi dari open dumping menjadi sanitary landfill.
Proses ini, kata dia, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar berjalan optimal. “Dalam kurun waktu beberapa bulan, TPA Antang harus sudah beralih ke sanitary landfill. Ini kerja bersama, semua masyarakat harus terlibat,” ungkapnya.

